Klasifikasi Biaya dalam Bisnis Rumahan

Bisnis rumahan (Sumber gambar: batambisnis.com)

Bisnis rumahan (Sumber gambar: batambisnis.com)

Like

Tujuan utama bisnis atau perusahaan adalah untuk mendapatkan laba atau keuntungan. Kalimat kunci itu dikemukakan oleh Al Haryono Jusup dalam bukunya yang berjudul Pengantar Akuntansi.

Siapapun yang menjalankan suatu bisnis dapat dipastikan mempunyai tujuan utama untuk mendapatkan keuntungan. Baik itu perusahaan besar maupun perusahaan kecil atau UMKM, tentu saja tujuan utamanya untuk mendapatkan keuntungan.

Seringkali yang menjadi hambatan dalam pengelolaan keuangan kecil atau bisnis rumahan adalah kurang memahami cara menyusun laporan keuangan. Akan tetapi, perusahaan kecil tentu akan memiliki biaya yang besar apabila menggunakan konsultan.

Dengan demikian, salah satu cara yang sederhana namun efektif untuk menilai kinerja keuangan bisnis kecil adalah dengan melihat titik impas atau berak even point. Perusahaan dapat dikatakan berhasil apabila jumlah pemasukannya melebihi dari biaya-biaya atau pengeluarannya.

Akan tetapi, yang menjadi permasalahan adalah bisnis kecil atau yang disebut dengan bisnis rumahan agak sulit untuk menentukan biaya-biaya yang terjadi dalam operasional bisnisnya. Hal dapat disebabkan oleh beberapa hal misalnya beberapa biaya operasional bisnisnya yang menjadi satu bagian dengan biaya operasional rumah tangga.

Misalnya, biaya listrik yang jadi dipakai bersama antara rumah tangga dengan operasional bisnisnya. Selain itu, bisa juga biaya air, dan bahkan beberapa bisnis rumahan juga memiliki hanya satu kompor dan tabung gas.


Kompor tersebut digunakan untuk memasak kebutuhan keluarga sehari-hari dan digunakan juga untuk memasak makanan untuk berjualan. Kondisi-kondisi seperti ini dapat menyulitkan manajer keuangan bisnis rumahan tersebut untuk menentukan kinerja keuangan bisnisnya.

Dengan demikian, salah satu hal yang dapat dilakukan oleh pemilik bisnis yang jadi satu dengan rumah adalah bukan hanya melakukan estimasi atau perkiraan-perkiraan mengenai pengeluaran dalam bisnisnya. Namun pengelola bisnis tersebut juga perlu mengestimasi pengeluaran-pengeluaran yang terjadi dalam rumah tangga.

Setelah dapat diperkirakan mengenai jumlah biaya-biaya atau pengeluaran-pengeluaran operasional bisnis dan rumah tangganya, maka langkah selanjutnya adalah menentukan rasio atau perbandingan dari masing-masing biaya tersebut.

Misalnya, listrik di rumah dalam satu harinya adalah 18 jam penggunaannya untuk rumah tangga, sementara penggunaan listrik dalam satu harinya untuk operasional bisnis hanya 6 jam. Maka, perbandingannya antara penggunaan listrik untuk rumah tangga dan untuk bisnis adalah 18:6, yaitu 3 dibanding 1.

Sehingga, apabila tagihan listrik dalam satu bulan sebanyak Rp. 600.000, maka biaya listrik yang dialokasikan untuk rumah tangga adalah sebanyak Rp. 450.000, Sedangkan biaya listrik yang dialokasikan untuk operasional bisnis adalah sebanyak Rp. 150.000.

Begitu pula dengan biaya-biaya yang lainnya, seperti biaya air, biaya tabung gas, dan sebagainya, perlu juga dilakukannya estimasi supaya kinerja keuangan bisnis rumahan tersebut dapat lebih terukur.